Memuat tanggal...
Logo
Perang dan Blokade Palestina Picu Krisis Insulin, Nyawa Penderita Diabetes Terancam
News 25 June 2026, 22:06 WIB Shaddam Putra

Perang dan Blokade Palestina Picu Krisis Insulin, Nyawa Penderita Diabetes Terancam

Perang dan blokade yang berkepanjangan di Gaza kini menciptakan ancaman mematikan bagi ribuan penderita diabetes. Kelangkaan insulin, alat pengukur gula darah, jarum suntik, dan pasokan listrik membuat banyak pasien kesulitan mengontrol penyakit mereka. Bagi penderita diabetes tipe 1, kondisi ini bukan sekadar menurunkan kualitas hidup, tetapi dapat berujung pada kematian dalam hitungan hari jika insulin tidak tersedia.

Sumber: Al Jazeera

Dilansir, Al Jazeera, sejumlah pasien dan tenaga medis menggambarkan bagaimana mereka harus mengurangi dosis insulin demi menghemat stok yang tersisa. Banyak keluarga juga kehilangan akses terhadap makanan yang sesuai kebutuhan penderita diabetes, sehingga kadar gula darah menjadi semakin sulit dikendalikan.

Dokter spesialis endokrinologi di Gaza memperkirakan sekitar 2.500 anak hidup dengan diabetes tipe 1 dan berada dalam kondisi yang sangat rentan. Selain kekurangan obat, banyak fasilitas kesehatan yang rusak akibat konflik sehingga layanan pemeriksaan dan pemantauan pasien kronis nyaris lumpuh.

Akibat keterbatasan tersebut, sejumlah pasien mengalami komplikasi serius seperti gagal ginjal, kerusakan saraf, gangguan penglihatan, hingga ketoasidosis diabetik (DKA), kondisi darurat medis yang dapat menyebabkan koma dan kematian.

Krisis diabetes di Gaza sebenarnya merupakan bagian dari keruntuhan sistem kesehatan yang lebih luas. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 18.500 pasien di Gaza membutuhkan evakuasi medis karena layanan yang mereka perlukan tidak lagi tersedia di dalam wilayah tersebut. Namun proses evakuasi berjalan sangat lambat sehingga banyak pasien meninggal sebelum mendapat perawatan.

Kondisi serupa juga dialami pasien penyakit kronis lainnya. Laporan Associated Press sebelumnya menyebut lebih dari 400 pasien cuci darah di Gaza meninggal selama konflik akibat rusaknya pusat dialisis dan kekurangan peralatan medis. Angka tersebut setara sekitar 40 persen dari seluruh pasien dialisis di wilayah tersebut.

Kementerian Kesehatan Gaza juga berulang kali memperingatkan bahwa stok obat-obatan penting terus menipis. Dalam pernyataan yang dikutip berbagai sumber, hampir separuh obat esensial dan sebagian besar bahan medis habis dari persediaan rumah sakit.

Krisis pangan turut memperburuk keadaan penderita diabetes. Kelangkaan makanan dan meningkatnya risiko kelaparan membuat pasien sulit menjaga pola makan yang dibutuhkan untuk menstabilkan gula darah. Bahkan ketika insulin tersedia, ketidakpastian akses makanan tetap meningkatkan risiko komplikasi berbahaya.

Sumber: Al Jazeera, Associated Press

Bagikan Artikel: